Porang, Dulu Diabaikan, Kini Menjadi Primadona - Expose Update
Penjaga keselarasan Pembatas keadilan Pembongkar kezaliman

Porang, Dulu Diabaikan, Kini Menjadi Primadona

Jumat, 18 Juni 2021

foto : Mentan Syahrul Yasin Limpo saat berkunjung ke Pabrik pengolahan Porang di Desa Klangan, Kec. Saradan Kab. Madiun, Jawa Timur didampingi Menko PMK, Prof. Muhajir Effendy. (foto IG Yasin limpo)

JAKARTA, Exposeupdate.com – Jum’at, (18/6/2021). Tumbuhan Porang atau nama Latinnya Amorphophallus muelleri atau lebih populer di kalangan petani di Jawa dengan sebutan iles – iles.

Porang adalah tenaman penghasil umbi yang dapat dimakan.

Tumbuhan Porang adalah tanaman sela yang tumbuh disela – sela pohon Jati, sengon, mahoni dan sonokeling, dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja, basah maupun kering pada ketinggian 0 sampai 700 Mdpl.

Tanaman Porang tidak memerlukan perawatan khusus, pada budidaya Porang, pemupukan hanya dilakukan satu kali pada saat penanaman.

Porang hanya mengalami masa pertumbuhan 5 sampai 6 bulan tiap tahunnya, khususnya pada masa penghujan, pada musim kemarau pertumbuhan nya melambat bahkan terhenti.

Untuk menghasilkan umbi yang baik, jarak ideal adalah 1 meter dengan pohon lainnya. Tanaman ini menghasilkan umbi yang baik pada usia di atas 1 tahun.

Petani di Madiun telah membudidayakan Porang sejak tahun 1970, karena hasilnya cukup menjanjikan.

1 pohon Porang dapat menghasilkan 2 kilogram umbi, dalam hamparan 1 hektare dapat ditanami 40 ribu tanaman sehingga hasil yang di peroleh dapat mencapai 80 ton umbi per periode tanam.

foto : Tanaman Porang

Selain di Madiun, Porang juga telah dibudidayakan di Bandung, Wonogiri, Pasuruan, Maros dan Bali.

Modal yang dibutuhkan mencapai Rp. 360 jt untuk 2 musim tanam (18 bulan) dan keuntungan yang dapat diperoleh adalah Rp. 3 Miliar.

Sebagai catatan, harga Porang segar di pasaran saat ini Rp. 4000/ kilogram, Porang kering atau yang berbentuk kripik Rp. 15.000,- hingga Rp. 30.000,- per kilogram, dan Rp. 100 ribu/ kilogram bila telah menjadi tepung Glukomannan.

Saat ini, kementerian pertanian melalui Dirjen tanaman pangann terus mensosialisasikan tanaman Porang di berbagai daerah.

Tanaman yang dulunya hanya dipandang sebelah mata, karena dianggap hanya makanan ular, kini mulai dilirik para petani karena memiliki nilai ekspor yang cukup tinggi.

Saat ini tanaman Porang mulai meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan ekspor.

Negara tujuan ekspor saat ini untuk tanaman Porang adalah Jepang, China, Australia, Vietnam dan Malaysia.

Dari catatan yang diperoleh dari balai besar karantina kementerian pertanian, pada semester pertama tahun 2021 meningkat menjadi 14,8 ribu ton jauh melampaui tahun 2019 yang hanya mencapai 5,7 ribu ton atau meningkat hingga 160%.

Tanaman Porang, terutama umbinya yang diolah menjadi tepung konjak atau glukomannan, yang mana tepung ini diolah menjadi bahan utama olahan shirataki, mi bening yang banyak di konsumsi di Asia Pasifik.

Perbedaan dengan tepung terigu atau tepung beras, konjak memiliki banyak serat, itu sebabnya shirataki yang berbahan konjak memiliki rasa lebih kenyal namun kandungan karbohidrat nya lebih sedikit.

Selain itu, Porang juga dapat menjadi bahan baku produk kosmetik dan pengental lem.

Selain sebagai bahan baku mi dan kosmetik, Porang juga sebagai komoditas ekspor, bahan isolator listrik, untuk mengentalkan es krim, bahan baku bahan industri, untuk menjernihkan air, menurunkan resiko kanker usus, merawat kesehatan kulit, mencegah penyakit jantung, membantu menurunkan berat badan, mengatasi peradangan dan mencegah diabetes. (Adhie)

Baca Juga

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ExposUpdate