Penjaga Keselarasan, Pembatas Keadilan dan Pembongkar Kezaliman

Bebek Alabio, Maskot Kalimantan Selatan Mulai Tersisih Oleh Bebek Peking.

Senin, 18 Juli 2022
foto: Bebek Alabio

BANJARBARU, Exposeupdate.com – Senin, (18/07/2022). Tak disangkal lagi, bebek merupakan menu favorit yang saat ini banyak digemari selain ayam dan ikan. Tidak sulit untuk mencari menu bebek, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Bebek juga menjadi komoditas ekonomi yang cukup menjanjikan bagi peternak bebek, selain biaya pakan yang tidak besar, juga masa panen yang cukup singkat.

Pada kesempatan kali ini, penulis yang berkesempatan melihat lebih dekat peternakan bebek di Kalimantan Selatan (Kalsel), tepatnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Ada hal unik yaitu bebek alabio, bebek rawa yang hanya dapat hidup di alam Kalimantan Selatan.

foto: Drh. Putut Eko Wibowo, Kepala Balai Veteriner Banjarbaru saat meninjau langsung ke peternakan bebek Alabio.

Menurut Drh. Putut Eko Wibowo, Kepala Balai Veteriner Banjarbaru, bebek alabio tidak dapat hidup di luar habitatnya di Kalsel, Bebek Alabio ini hanya dapat bertahan hidup di Kalsel.

Kelompok Ternak bebek Harapan Bahagia, Abrar yang ditemui penulis. Saat ini memiliki 1200 ekor bebek alabio, 600 ekor produktif bertelur.

foto: Abrar, Peternak Bebek Alabio dari Kelompok Tani Harapan Bahagia, Desa Murung Asam, Kec. Sungai Pandan, Kab. Sungai Hulu Utara.

Abrar yang berdomisili di Desa Murung Asam, Kecamatan Sungai Pandan, mengatakan bahwa bebek Alabio itu mulai bertelur di umur 6 bulan, puncaknya pada umur 1 tahun sampai umur 3 tahun mulai berkurang produksi telurnya.

Saat ini populasi bebek alabio perlahan mulai digeser oleh bebek peking, selain karena bibit bebek alabio lebih mahal, kisaran Rp. 12.000,- sampai Rp. 13.000,- per ekor. Dibandingkan dengan bebek peking yang bibitnya hanya Rp. 7.000,- sampai Rp. 8.000,- per ekor.

Secara ekonomi bebek peking juga jauh lebih menguntungkan peternak, hal tersebut karena bebek peking hanya butuh waktu kurang dari 2 bulan (50 hari) sudah dapat dipanen. Dengan berat rata-rata mencapai 3 kilogram, sementara bebek alabio dengan waktu yang sama, bobotnya kurang dari itu.

Bebek Alabio pernah mencapai puncaknya pada waktu tahun 2000 sampai dengan tahun 2010, namun saat ini para petani ternak bebek lebih cenderung beternak bebek peking. Bila dari waktu ke waktu terus berkurang populasi dan minat peternak bebek untuk memelihara bebek alabio, tidak menutup kemungkinan bebek yang menjadi maskot Kalimantan Selatan ini tinggal sejarah saja. (Ancha)

Baca Juga

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
ExposUpdate