Dugaan Suhardi Duka, Dirjen PSP, Sarwo Edhie diganti karena menegur “Kontraktor” - Expose Update
Penjaga keselarasan Pembatas keadilan Pembongkar kezaliman

Dugaan Suhardi Duka, Dirjen PSP, Sarwo Edhie diganti karena menegur “Kontraktor”

Senin, 14 Juni 2021

foto : Suhardi Duka, Anggota DPR-RI komisi IV, dari Fraksi Demokrat

JAKARTA, Exposeupdate.com – Senin, (14/6/2021). Anggota DPR-RI Komisi IV, dari fraksi Demokrat, Suhardi Duka, dari DAPIL Sulawesi Barat, menumpahkan kekecewaannya saat RDP dengan kementerian Pertanian.

Pada RDP yang berlangsung pada 24 Mei lalu yang membahas ABT 2021 RKA – K/L 2022, di Senayan, Jakarta.

Suhardi menyentil pimpinan sidang, Sudin, yang kerap marah-marah saat memimpin sidang, “kalau saya perhatikan rapat-rapat kita itu, Pak Sudin selalu marah-marah ketua kita ini, iya, saya analisa marahnya, saya kira benar marahnya, karena mitra kita yang paling melenceng dari kesepakatan adalah kementerian Pertanian, kalau saya bandingkan dengan KKP dengan KLHK, apa yang kita sepakati disini itu sama, tapi di kementerian Pertanian banyak melenceng nya, jadi kalau Pak Sudin katakan bohong, memang mulai saya akui apa yang dikatakan oleh Pak Sudin”, lebih lanjut Suhardi mengatakan, “kesimpulan rapat kadang-kadang tidak diimplementasi, apakah dibaca itu kesimpulan rapat tidak? Saya minta supaya dibaca pak ini”, pintanya.

Beliau menilai, apa yang dibicarakan di ruang sidang, selalu melenceng di lapangan.

” Supaya jangan selalu melenceng apa yang kita hadapi di lapangan dengan apa yang kita katakan disini, kita sudah katakan ke rakyat begini, tapi implementasi nya tidak”.

Demikian jaga penyebaran pangan, tidak berdasarkan kebutuhan, tapi berdasarkan kepentingan.

“Penyebaran pangan juga tidak berdasarkan kebutuhan, tapi berdasarkan kepentingan, baik itu alokasi benih, alokasi pupuk, berdasarkan kepentingan nya, bukan kebutuhannya”.

Hal ini cukup dia rasakan di Dapilnya, Sulbar.

Lebih jauh Suhardi menyentil soal sulitnya bermitra dengan kementerian Pertanian, “Begitu juga kemarin, kita bicara dengan BUMN klaster pangan, kita rasakan apa yang mereka katakan, bahwa untuk masuk bermitra dengan kementerian Pertanian itu sulit, baik itu pengadaan pupuk, pengadaan benih, BUMN aja sulit masuk, tapi setelah kita telusuri siapa disana yang merajai? Tidak lebih dari 4 atau 5 orang, dia juga menang di bibit kakao, bibit coklat, bibit kopi, pupuk ini pupuk itu, dan bahkan pupuknya banyak yang tidak sesuai dengan spek”.

Suhardi juga merasa heran dengan kehebatan kontraktor tersebut.

“Yang herannya, eselon satu selaku kuasa pengguna anggaran tidak mampu menegur Kontraktor-kontraktor itu, saya tidak tahu, sejauh mana kehebatan kontraktor pengadaan itu, mungkin karena Pak Sarwo (Dirjen PSP saat itu, red.) menegur, sehingga dia digantikan, saya khawatir”.

foto : Mantan Dirjen PSP, Sarwo Edhie

Kembali Suhardi mengingatkan, ” Jadi ini perlu kajian betul, jangan bapak mengatakan bahwa saat ini mungkin KPK agak lemah karena 75 penyidik nya tersangkut dengan itu (tidak lolos TWK red.), saya ingin katakan pak, masih banyak di KPK yang hebat, masih banyak polisi-polisi yang punya nurani yang hebat, masih banyak Jaksa yang hebat, jadi hati-hati kalau bapak ketemu Jaksa yang bapak tidak bisa beli, bapak masuk”. Suhardi mengingatkan.

Terkait dengan alur komando, sering tidak sejalan antara pimpinan dan bawahan, hal ini juga menjadi perhatian Suhardi.

“Yang hebatnya juga di kementerian ini, biar menterinya setuju, eselon satunya setuju, bisa eselon duanya tidak setuju, stafnya tidak setuju, ya, hebat kementerian ini, jadi hati-hati pak, dewan memiliki fungsi pengawasan, kami, biar anggota perorangan bisa langsung melaporkan kepada KPK, dan banyak fakta-fakta sudah terima dan bisa melaporkan lansung kepada Jaksa, melaporkan langsung kepada kepolisian”, mengingatkan.

Suhardi lebih jauh mengingatkan sebagai mitra pemerintah yang telah melihat hal ini selama kurang lebih satu setengah tahun.

“Saya ini satu setengah tahun hanya melihat, tapi saya melihat kalau ini tidak diberikan penekanan-penekanan, saya khawatir akan melenceng tetus, mitra yang baik, bukan mitra yang hanya memuji, tapi mitra yang mengingatkan juga adalah mitra yang baik, karena kita saling menyayangi, kita saling mengingatkan, seperti halnya kampung horti, ndak ada pak, ndak jelas pengadaan bibit kakao, harusnya diterima petani 1000, diterima 300, begitu juga kopi, tidak pernah sampai dengan itu, dan bapak tidak pernah tegur, karena bapak tidak mampu tegur.” Tegasnya.

Terkait alokasi anggaran untuk 2022, kembali Suhardi mengingatkan, “Untuk 2022 ini 14 Triliun, turun 6Triliun, perkuat argumen bapak untuk bisa kita mengalokasikan anggaran 2022, tapi 2021 belum ada yang jalan pak, perbaiki betul-betul itu 2021, karena kita akan melakukan pengawasan yang ketat, terus terang, selama ini saya lebih banyak memberi support kepada bapak, tapi mungkin di hari-hari depan lebih banyak kritisi bapak”. (Adhie)

Sumber : YouTube DPR-RI

Baca Juga

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ExposUpdate