Penjaga Keselarasan, Pembatas Keadilan dan Pembongkar Kezaliman

Gaduh Soal PMK (Penyakit Mulut dan Kuku), Sejumlah Wilayah Membentuk Satgas, MUI pun Mengeluarkan Fatwa

Rabu, 6 Juli 2022
foto: Kepala Balai Veteriner Banjarmasin, Drh. Putut Eko Wibowo.

BANJARMASIN, Exposeupdate.com – Rabu (06/07/2022). Menjelang Hari Raya Idhul Adha, permintaan akan hewan kurban semakin meningkat, baik sapi, kerbau maupun kambing. Dalam waktu yang bersamaan, Virus PMK juga menyasar hewan- hewan tersebut di sejumlah daerah.

Bali, NTB, NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah dan beberapa daerah lainnya sudah terjangkit virus tersebut.

Sebagaimana diketahui, penyebaran virus tersebut sangat cepat dan air bone, dengan jarak penyebaran dengan radius cukup luas, dapat mencapai 10 kilometer.

foto: Instalasi Karantina Hewan (IKH) Banjarmasin.

Temuan redaksi exposeupdate.com di Banjarmasin, saat ini ada 57 ekor sapi asal Bali yang sementara dititipkan di Instalasi Karantina Hewan (IKH) Banjarmasin diambil sampelnya oleh Tim Bvet Banjarmasin, hal ini dilakukan mengingat Bali masuk zona merah untuk PMK.

Menurut Kepala Balai Veteriner Banjarmasin, Drh. Putut Eko Wibowo, tes dilakukan karena ada indikasi sapi tersebut terjangkit virus PMK.

“Secara fisik sapi-sapi tersebut sehat, namun tetap kita uji”, dalam pengambilan sampel tersebut, terdapat 1 ekor terindikasi dan disarankan untuk segera dipotong, untuk memutus rantai penyebaran.

Apabila dari hasil uji tersebut dinyatakan positif virus PMK, maka sapi-sapi tersebut akan dikarantina sebelum diberangkatkan ke tujuan akhir, Palangkaraya. (sapi-sapi tersebut datang dari Bali melalui pelabuha Banjarmasin, Red.)

foto: Pengambilan sampel liur sapi Bali di Intalasi Karantina Hewan Banjarmasin, oleh petugas dari Balai veteriner Banjarmasin.

Menurut Putut, pada dasarnya sapi tersebut aman untuk dikonsumsi oleh manusia, dan juga virus PMK tidak menular ke manusia, namun manusia dapat menjadi pengantar virus bagi hewan lainnya.

Sejumlah daerah di Kalsel dan Kalteng membentuk satgas yang di kepalai oleh BPBD daerah masing-masing untuk melakukan penyekatan agar sapi atau kambing yang terindikasi tidak memasuki wilayah lainnya dan untuk menghindari penyebaran.

Namun pada praktik dilapangan menuai beberapa kendala, antara lain kurangnya personel dan banyak jalan tikus yang tidak terpantau oleh petugas.

Terkait polemik boleh atau tidaknya sapi maupun kambing untuk dijadikan hewan kurban, MUI mengeluarkan Fatwa No. 32 Tahun 2022 terkait sapi atau kambing yang akan dijadikan sebagai hewan kurban, MUI mengeluarkan pedoman sebagai berikut:

1. Hewan dengan PMK gejala ringan seperti lepuh ringan pada celah kuku, kondisi lesu, tidak nafsu makan, dan keluar liur lebih dari biasanya hukumnya sah dijadikan hewan kurban.

2. Hewan dengan PMK gejala berat seperti lepuh pada kuku hingga terlepas dan/atau menyebabkan pincang atau tidak bisa berjalan serta menyebabkan sangat kurus hukumnya tidak sah dijadikan hewan kurban.

3. Hewan dengan PMK gejala berat, tetapi sudah sembuh dalam rentang waktu kurban (10—13 Dzulhijjah) sah dijadikan hewan kurban.

4. Hewan dengan PMK gejala berat, tetapi sembuhnya telah lewat dari rentang waktu kurban (10—13 Dzulhijjah) dianggap sebagai sedekah, bukan hewan kurban. (Ancha)

Baca Juga

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

AFRIANSYAH NOOR SELAMAT JH OPTIK & JH CAFE
Logo ATM - GIF 02-Small
Opening 2022 GIF

Perkembangan Virus Corona

Baca Juga

Berita Terpopuler

error: Content is protected !!
ExposUpdate